Summary Punggung dan Lelaki Yang Sama
Aku suka punggungnya. Diam-diam aku suka menangis di belakang punggungnya saat dia memboncengku di atas sepeda motor. Punggung dari lelaki yang sama. Lelaki yang aku hafal betul bagaimana bentuk tangan dan bahunya. Satu-satunya yang dapat meraihku. Meyakinkanku bahwa di setiap kesukaran selalu ada cara untuk bahagia. Entah bagaimana jalannya. Jangan bertanya kenapa aku suka sekali menangis. Jangan juga bertanya kenapa perempuan sulit sekali di mengerti. Kalau saja perempuan tahu bagaimana cara menaklukan apa yang dirasakannya. Dia pasti tidak akan menanyakan hal yang sama berulang kali saat aku terlihat murung dan menekuk wajahku. "Kamu kenapa?" Begitu katanya pelan Tapi, aku beri tahu, saat begitu perempuan hanya ingin lebih diperhatikan, dimanjakan, atau paling tidak duduklah saja di sebelahnya. Sebenarnya, perempuan hanya benci untuk sendiri. "Aku suka kamu peluk" begitu kataku padanya Aku suka dia peluk. Rasanya hangat. Terlebih aku tahu bahwa aku tidak u...