Summary Punggung dan Lelaki Yang Sama

Aku suka punggungnya.

Diam-diam aku suka menangis di belakang punggungnya saat dia memboncengku di atas sepeda motor.

Punggung dari lelaki yang sama. Lelaki yang aku hafal betul bagaimana bentuk tangan dan bahunya. Satu-satunya yang dapat meraihku. Meyakinkanku bahwa di setiap kesukaran selalu ada cara untuk bahagia. Entah bagaimana jalannya.

Jangan bertanya kenapa aku suka sekali menangis. Jangan juga bertanya kenapa perempuan sulit sekali di mengerti. Kalau saja perempuan tahu bagaimana cara menaklukan apa yang dirasakannya. Dia pasti tidak akan menanyakan hal yang sama berulang kali saat aku terlihat murung dan menekuk wajahku.

"Kamu kenapa?" Begitu katanya pelan

Tapi, aku beri tahu, saat begitu perempuan hanya ingin lebih diperhatikan, dimanjakan, atau paling tidak duduklah saja di sebelahnya. Sebenarnya, perempuan hanya benci untuk sendiri.

"Aku suka kamu peluk" begitu kataku padanya

Aku suka dia peluk. Rasanya hangat. Terlebih aku tahu bahwa aku tidak usah takut akan kesepian. Selalu ada dirinya. Meski mungkin tidak bisa memindahkan sebagian bebanku. Tapi aku tahu, dengannya aku tahu cara untuk bangkit dan melangkah. Dengannya, rasanya akan lebih ringan. Dan itu yang akan membuatku mudah.

Dia tidak tahu, aku sebenarnya lebih cengeng dari apa yang dia pikirkan. Meski begitu, aku hanya bisa menangis kencang dihadapan ibu dan dirinya.

Dihadapannya, aku sungguh tidak bisa menyembunyikan kelemahanku. Habis sudah. Ia hapal kejelekan dan keburukanku.

Entahlah dihadapannya aku sangat cengeng sekali.

Pernah suatu saat aku bertanya padanya,

"Aku mau dong di romantisin" kataku

"Emang romantis yang menurut kamu itu gimana?" dia balik bertanya

Hening.

Entahlah. Kata romantis menjadi bias. Aku tahu ini klise. Makan malam, lagu romantis, puisi, bunga, coklat, jalan-jalan berdua. Aku tahu itu bukan dirinya.

Aku tahu caranya bukan pada kebanyakan. Aku tahu menjadi romantis bukanlah dengan menelpon dan mengirimiku kata-kata puitis setiap hari.

"Kamu cuek" kataku lagi padanya

"Aku nggak bisa ngejanjiin apa-apa sama kamu, tapi aku bisa menjaminkan badan aku buat ngejagain kamu" begitu katanya saat kami duduk di halte sore itu

Kata orang bijak, rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Aku perempuan, saat teman perempuanku bercerita tentang bagaimana hebatnya pasangannya untuk mereka. Saat itulah aku merasa ingin. Menuntutnya lebih dan lebih. Aku lupa pada seluruh kebaikannya mengusahakanku. Andai saja aku tulis berapa banyak pengorbanannya untukku. Tidak perlu lagi aku meminta dan bertanya. Dia pasti akan melakukan apa yang ia harus lakukan sesuai kesanggupannya.

Untuk hal ini, sebut saja aku si bodoh. Aku egois dan aku bodoh. Tapi meskipun aku bodoh, dia tidak perlu khawatir. Setidaknya aku bisa memasakan makanan kesukaannya yang enak.

Iya, aku suka memasak untuknya. Aku suka saat dia melahap habis hasil masakanku. Lalu dia berkata "Masakan kamu enak". Bukankah itu kata romantis dari seorang laki-laki?

Aku mau tangan pertama dan terakhir yang menggenggamku. Mengajariku yang bodoh sekali bagaimana cara bermain Flappy bird.

Aku mau punggung yang sama, yang menyediakan tempat saat aku diam-diam ingin menangis. Sampai dia tahu bahwa air mata yang mengering adalah air mataku.

Aku mau badan yang sama, yang mengajariku bagaimana caranya berenang dan menemaniku saat aku asyik sendiri bermain air.

Aku mau dirinya, yang setiap hari menjemputku di halte kesukaan sehabis pulang kerja.

Aku mau dia yang satu-satunya akan memelukku saat suasana hatiku sedang tidak baik.

Aku mau dia yang setiap hari mengatakan aku cantik. Meskipun nanti wajahku berkerut dan penuh noda.

"Kamu cantik" katanya, manis sekali

Padahal aku tahu aku tidak secantik itu. Aku hanya memoles bibirku dengan lipstik merah jambu agar tidak terlihat pucat. Tapi dia seolah mengisyaratkan bahwa aku adalah perempuan tercantik untuknya. Padahal aku juga tahu, banyak sekali perempuan yang 1000 kali lebih cantik. Tapi, ucapannya membuat aku yakin bahwa kecantikan bukanlah sebuah ukuran untuknya.

Aku suka dia bilang cantik.

Aku mau laki-laki yang sama, yang sebagian orang tidak menyukai aku bersamanya. Hidup berubah. Dan yang perlu kita kompromikan dari sebuah perubahan adalah menerima.

Perubahan adalah bagian dari resiko dalam sebuah pilihan dan keputusan.

Aku mau dia yang tidak ingin menghamburkan uang karena ingin membangun rumah untuk kami.

Aku mau dia, lelaki yang sama.
Yang akan mengajarkan aku untuk kuat, sekuat jaegers dalam film Pacific Rim yang pernah kita tonton tempo hari.

"Kita tetap perlu menikmati hari ini, melangkah saja dengan ringan, kita akan sampai tujuan di saat yang tepat dan di hari yang bahagia. Karena kamu, kebahagiaanku" --- Aku

Minggu, 20 April 2014
Satu tahun 20 hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summary Malam I

Summary Untuk Pram

Summary Chemistry di Bulan Juli