Kenangan Bernama Bara

Namanya Kirana, orang-orang menyebutnya Rana. Hampir satu jam sudah ia menunggu di halte itu. Sunyi. Hanya ada bunyi klakson dan langit yang mulai meredup meninggalkan jingga yang perlahan pergi.
Hari berikutnya, masih sama, ia masih saja menunggu di halte itu.
Rana bilang, itu halte kesukaannya.
Aku masih ingat suaranya. Suaranya khas. Tidak nyaring memang, tapi aku suka.
Rana, dia gadisku saat usiaku 22 tahun. Pacar pertamaku. Dia gadis manis yang membuat aku tahu bahwa aku perlu memperjuangkan sesuatu yang berharga.
Sayang, manusia hanya menerka, keyakinan terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan.
Hari itu, saat usiaku 27 tahun dan Rana 25 tahun. Tepat pada hari jadi tahun kelima kami. Aku pergi ke sebuah Toko perhiasan untuk membelikannya sebuah cincin. Aku ingin bertunangan saja dulu begitu pikirku. Setelah memilih sebuah cincin cantik lalu kuminta untuk dituliskan inisial huruf nama kami R&B. Aku lekas memacu mobilku segera sampai rumah untuk segera mandi dan bersiap-siap bertemu pujaan hatiku.
Tapi setibanya di rumah,
"Braak!"
Aku terjatuh saat menaiki tangga rumah. Aku masih sadar saat itu. Perutku sakit sekali. Ngilu.
"Rumah Sakit Mutiara Kasih Ruang Mawar Nomor 19." Begitu kata suara perempuan paruh baya yang sedang menelepon.
Aku terbaring lemah saat itu. Aku tak tahu kenapa aku mesti ada disini. Aku hanya memiliki penyakit gastritis atau biasa orang-orang sebut penyakit ini maag. Penyakit biasa yang kebanyakan orang rasakan. Itupun paling karena telat makan atau terlalu banyak makan pedas dan asam.
Hari itu, hari dimana seharusnya aku melamar Rana. Sekian lama telah menunggu saat yang tepat itu tiba. Aku merasa hari itu adalah saat yang tepat untuk meyakininya lagi dan lagi. Aku ingat saat kita bersama ia selalu bertanya,
"Kita jodoh nggak ya?" Begitu tanyanya.
Hari itu, seandainya ia tahu, aku ingin sekali meyakininya, bahwa aku ingin menjadikannya perempuanku, perempuan yang akan mengurusiku, perempuan yang akan tinggal menua denganku. Saat itu, aku ingin sekali membisikan kata-kata ini ke telinganya,
"Aku mencintaimu perempuanku, maukah kamu menerimaku untuk aku saja yang menjagamu, untuk aku saja yang menggendongmu saat kamu tertidur di pundakku saat kita melihat senja bersama?"
Manis bukan?
Aku menyiapkan kata-kata itu berhari-hari karena aku tahu selama bertahun-tahun kita bersama aku jarang memujinya dengan kata romantis. Bukan tidak mau, aku tidak bisa. Aku tidak mahir berpuitis.
Ah, Sudahlah. Malam itu terpaksa kulewatkan di rumah sakit yang menyebalkan ini dengan bau obat-obatan yang khas. Entahlah, tiba-tiba rumah sakit menjadi tempat yang sangat menyebalkan. Merusak rencana indahku.
"Bu, jangan bilang Bara ada disini sama Rana ya?" Ucapku pada ibu.
"Kenapa Bar?" Tanyanya.
"Jangan ya bu, setelah sehat Bara mau bikin surprise buat Rana, tadinya itu kemarin, tapi malah Bara masuk sini." jawabku.
Ibu mengangguk.
Aku merasa bahwa aku akan lekas sembuh. Aku tahu Rana pasti sedang menunggu dan merindukanku. Ah andai saja Rana tahu bahwa aku di rumah sakit. Ia pasti akan khawatir sekali, lalu menungguiku disini, memarahiku karena tidak bisa menjaga kesehatan.
Keesokan paginya, bukannya membaik, aku malah muntah-muntah, malah ada sedikit darah yang ikut keluar. Kondisiku benar-benar memburuk. Bahkan aku harus dibantu selang oksigen. Aku merasa sesak.
"Usus anak anda bocor bu, harus dioperasi." ucap Dokter Tama pada ibu.
"Dok, tolong lakukan apapun untuk anak saya dok." Begitu kata ibu.
"Baiklah, setelah kondisi anak ibu membaik kami akan melakukan operasi." Jawab Dokter Tama.
Aku mendengar suara sesenggukan di sebelahku. Tangan yang aku hapal benar sedang menggenggamku. Matanya merah. Air mata yang keluar dari perempuanku.
"Cepet sembuh, aku ingin nunggu kamu di halte lagi. Kamu tahu kemarin aku nunggu kamu seharian di halte. Kenapa malah kesini?" begitu katanya lirih.
Ah pasti Ibu tak tahan untuk memberitahu Rana aku ada disini.
Aku hanya diam. Tak bisa bergerak. Tanganku lemah. Bahkan bicarapun tak sanggup. Ingin sekali mengusap airmatamu sayangku, tapi sayang sekarang aku tak bisa biar kau belajar untuk menguatkan dirimu sendiri.
Kau tahu, sekuat apapun lelaki, ada saat dimana mereka menjadi lemah dan tak berdaya. Seperti aku sekarang.
Saat itu aku sudah tidak bisa berbicara, suster hanya mempersilakan aku untuk menulis di kertas jika ingin sesuatu. Kutuliskan sesuatu untuk Rana, untuk menebus kesalahanku karena membuatnya sedih aku berada disini.
Untuk Rana yang cantik,
Ran, gak apa-apa ya aku menginap saja dulu disini, aku tahu kamu pasti sebal, kan? Bukannya menghabiskan waktu bersamamu setelah berhari-hari saling menyimpan rindu nggak bertemu, aku malah ada disini. Rana sabar ya, aku akan segera sembuh lalu melamarmu. Tak apalah kubocorkan kejutanku duluan biar kamu nggak terlalu sedih memikirkanku terus di rumah sakit. Kamu jelek nangis terus.
Bara yang ganteng lagi atit. :)
Begitu tulisanku waktu aku sakit saat itu. Jelek memang. Suster tersenyum saat aku suruh melipatnya.
Sus, tolong lipat dan kasih pada kekasihku yang cantik sedunia.
Begitu tulisku saat meminta suster untuk memberikannya pada Rana.
Hari berikutnya. Aku masih saja di rumah sakit dan tak kunjung sembuh. Tapi aku tak patah arang. Aku pasti sembuh.
"Bu, maaf kami ingin bicara penting." Dokter Tama menyuruh Ibu untuk ke ruangannya. Ibu bergegas masuk.
"Bu, mengenai kondisi Bara, saya ingin menyampaikan hal yang penting." kata Dokter Tama.
"Kenapa dok dengan anak saya? Kapan ia akan sembuh?" Tanya Ibu penasaran.
"Begini, tampaknya kondisi Bara semakin memburuk, ususnya bocor, cairan yang keluar dari ususnya sudah sampai ke paru-paru. Kalaupun harus dioperasi kemungkinan.... (terhenti sejenak) bara akan mengalami kelumpuhan total akibat dari kerusakan syaraf dari obat bius. " Kata dokter Tama.
Hening.
Airmata Ibu mengalir deras.
Aku tahu ada rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya.
"Lalu harus bagaimana dok?" Tanya Ibu lirih.
"Semua keputusan di tangan Ibu, apabila ibu ingin Bara sembuh mungkin operasi adalah solusinya, dengan kemungkinan terburuk Bara akan mengalami kelumpuhan." tutup Dokter Tama.
Pada malam yang sunyi. Kulihat Ibu sedang sholat malam. Aku tahu Ibu sedang menangis. Kubiarkan Ibu menyelesaikan sholatnya. Aku tahu, sekuat apapun laki-laki ia akan kalah oleh Ibunya. Tapi Ibuku meskipun menangis ia sebenarnya sangat kuat sekali.
Pada pagi yang masih sunyi,
"Selamat pagi yang masih sangat pagi, sayangku, Baraku." ucap Rana, ia datang membawakan buah-buahan lalu menyimpannya di sebelah mejaku.
"Makasih ya suratnya, tulisan kamu jelek, tapi aku suka. Aku selalu suka apapun hasil karya kamu, sayang." Begitu kata Rana sambil tersenyum dan memegang tanganku.
Senyum khas yang aku hapal benar. Aku selalu hapal apapun tentang Rana.
Ia datang sehabis lembur bekerja. Kantung matanya coklat pekat. Matanya sembap. Aku tahu itu bukan karena ia kelelahan sehabis bekerja sampai larut malam. Aku tahu Rana habis menangis.
Di luar ruanganku,
"Bu, Bara kenapa?" Tanya Rana pada Ibu sambil memegang tangannya. Sorot matanya tajam.
Ibu meneteskan air matanya. Rana memeluk dan mengusap air matanya. Ada kehangatan pada dua perempuan yang paling aku sayangi. Oh, Tuhan aku bersyukur memiliki mereka. Aku mencintai mereka.
"Bara.. Bara.. akan cacat Ran kalau dioperasi. Bara akan lumpuh total.." Ucap Ibu sambil menangis sesenggukan.
Rana menangis. Entah yang keberapa kalinya.
"Ibu, sebenarnya Rana udah tau Bu. Rana sengaja mendengar di ruangan Dokter Tama waktu ibu ke ruangannya. Rana dari semalam sudah ada disini. Rana nggak kuat bu. Rana menangis semalaman." Ucap Rana panjang lebar.
Ibu masih menangis sesengukan.
"Ibu, Rana menangis bukan karena akan memiliki pendamping cacat, Rana menangis karena Ibu dan Bara adalah orang yang paling terluka dan hancur saat ini. Ibu, Rana masih akan mencintai dan menerima Bara apapun kondisinya." Lanjut Rana meyakinkan Ibu.
Ibu memeluknya erat. Ibu Tahu Rana adalah perempuan Baik untuk anaknya.
Aku adalah anak tunggal. Ayah sudah lama meninggal saat usiaku 5 tahun. Ibu adalah Ibu paling hebat sedunia. Kata Rana, Ibu cantik, pasti Ayahku juga tampan. Aku langsung mengiyakan karena kata Ibu, akupun tampan seperti Ayah.
Akhirnya hari operasi itupun tiba, tanpa Ibu beritahu resiko yang akan terjadi padaku. Saat itu ada Ibu, Rana, Om Didi dan sepupuku Arka. Mereka mengantarku sampai di depan ruang operasi.
Operasi selesai. Aku terbangun setelah dua hari tertidur pasca operasi. Kepalaku pusing. Aroma rumah sakit begitu menusuk. Mataku menerawang jauh melihat sekitar.
Aku merasa kekakuan di seluruh tubuhku. Ibu, Rana, Om Didi dan Arka mendekatiku. Aku menggerakan tubuhku tak bisa. Aku ingin bicara juga tak bisa. Aku bertanya-tanya kenapa dengan diriku. Aku berontak ingin bergerak. Lalu Om Didi memberikanku kertas dan pulpen. 
"Kenapa aku nggak bisa bergerak dan bicara?" Tulisku.
Ibu menangis. Semua diam.
Lalu Ibu membisikan ketelingaku,
"Kamu lumpuh nak. Maafkan Ibu membuat kamu begini. Ibu belum siap kehilangan kamu. Ibu cuma punya kamu Bara. Maaf, nak."
Rana menangis kuat. Aku meneteskan air mata. Pupus sudah harapanku menjadi laki-laki yang akan menjaga Ibu dan Rana. Aku merasa tak berharga saat itu. Aku lemah. Mungkin lebih dari itu.
Dari hari menyedihkan itu. Kondisiku tak juga membaik. Aku ditemani kursi roda. Ibu dan Rana setia mendampingiku. Tapi suasana hatiku berubah menjadi panas. Aku menjadi sosok pemarah. Aku menyesali kenapa ini harus terjadi. Aku merasa payah menjadi diriku sendiri.
"Bara, makan dulu yuk. Aku masakin makanan kesukaan kamu lho." ucap Rana sambil menyuapkan sendok ke mulutku.
Kulempar sendok itu. Lalu berlalu pergi dengan memutar kursi rodaku.
Aku merasa tak pantas untuk Rana. Gadis sesempurna dia tidak seharusnya dengan laki-laki cacat sepertiku. Entah bisikan darimana, aku ingin menyudahi kisahku dengan Rana. Apa yang bisa bisa diharapkan dari laki-laki sepertiku.
Maaf, aku menyerah, Rana.
Kuhabiskan waktuku yang semakin buruk dengan memusuhi Rana. Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi, aku merasa harus, aku tak perlu mengorbankan Rana mengurusi aku yang cacat seumur hidupku.
Kuambil kertas dan pulpen,
"Tolong Rana, kalau kamu cinta sama aku tinggalkan aku. Aku udah nggak bahagia lagi sama kamu." tulisku dan kusodorkan kertas itu pada Rana.
Rana menangis. Ia pergi meninggalkanku. Sakit rasanya. Kalau saja ia tahu aku terluka luar biasa. Bagaimana bisa orang cacat sepertiku menolakmu. Bukankah itu namanya tak tahu diri. Tapi, seandainya Rana tahu, cinta adalah pengorbanan. Begini caraku untuk menyelamatkan masa depan dan hidupnya.
Malam itu hujan deras. Aku mendapat kabar bahwa Rana belum pulang. Aku tahu ia pasti sedang menangis kencang sekarang. Masih sama seperti dulu, Rana cengeng dan mudah sekali cemberut.
Akhirnya, aku meminta Arka sepupuku untuk mengantarku mencari Rana dengan mobil. Aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku. Arka menyetir mobil mengelilingi jalanan yang sedang hujan deras.
Dan, di halte itu aku lihat Rana sedang duduk, ia terlihat menangis sesenggukan. Tak tega rasanya. Tapi aku merasa tak bisa menyuruhnya pulang. Aku tak bisa merayunya untuk berhenti menangis seperti dulu. Kita bukan lagi kita yang dulu.
Aku melihatnya dari kejauhan. Perempuanku, ia sedang sangat terluka dan aku yang membuatnya seperti ini. Aku meneteskan air mata. Kenapa kita harus begini. Aku menyuruh Arka untuk menelepon Atika, saudara perempuan Rana untuk menjemput Rana.
Rana, satu-satunya perempuan yang membuat aku semangat membangun rumah untuk tempat tinggal kami kelak.
"Bar, kalau punya anak perempuan sapa namanya ya?" Tanya Rana.
"Ah, aku mau laki-laki Ran! Mau aku kasih nama Elang. Kerenkan?" ucap Bara mantap.
"Hih kalo perempuan gimana hayoo? Lagian sapa juga yang mau sama kamu. Laki-laki hobi ngupil dan ngorok.. huuu.." Ucap Rana lagi.
"Hahaha" kita tertawa bersama.
Klise memang. Tapi dari hal kecil itu aku belajar, bahwa manusia adalah tempat berencana paling hebat. Dan aku belajar, bahwa tidak semua hal yang kita inginkan mengikuti jalannya.
Satu-satunya yang kini bisa kita lakukan adalah menerima. Dan soal aku memutuskan untuk meninggalkanmu adalah bagian dari pilihanku.
Saat memilihmu menjadi pasanganku itu adalah pilihanku, sama halnya seperti saat ini aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Aku harus Rana, tolong mengerti.
Kondisiku semakin hari semakin memburuk. Rana masih menjengukku setiap hari. Ibu selalu menegurku,
"Jangan begitu sama Rana, ia begitu menyayangimu" kata Ibu.
 
--------------------------------------------------------
Sampai pada akhirnya, Bara masuk rumah sakit kembali. Bara sesak luar biasa. Ternyata ususnya bocor kembali. Cairan menenggelamkan paru-parunya. Selang oksigen menempel di hidungnya. Kata dokter Tama, sudah tidak mungkin lagi operasi. Kalaupun operasi lagi, Bara harus berada di ICU selama 9 bulan dengan kondisi usus berada diluar dengan perut terbuka untuk mengeringkan organ bagian dalam yang terkena cairan ususnya dengan peralatan rumah sakit yang menempel di seluruh tubuhnya. Kata dokter Tama pula, bahwa syaraf-syaraf otak Bara akan mati total dengan kata lain Bara akan seperti mayat hidup.
Dunia seperti berhenti berotasi. Planet-planet seperti bertabarakan. Matahari menghantam bumi. Hancur luluh lantak.
"Jadi bagaimana dok?" Tanya Ibu.
"Maaf Bu. Kami tidak bisa menyelamatkan anak ibu. Sebenarnya Bara bisa bertahan sampai saat ini karena ia dibantu oleh peralatan medis." ucap Dokter Tama pelan.
Ini menjadi hari tersulit untuk kami. Untukku Bara yang sedang menantimu untuk kau lamar.
Untuk Bara yang hebat,
Bara, kamu boleh meninggalkan aku tapi jangan memaksaku untuk pergi darimu. Kamu boleh memilih untuk memutuskanku, tapi akupun boleh untuk tetap mencintaimu, berada di sampingmu. Karena meskipun kamu tak mau tahu, aku menerimamu tanpa alasan. Kamu tak bisa memaksa seseorang untuk memilih berada dimana, jika menjadi pendampingmu adalah pilihan tempatku berada. Bara, sungguh aku mencintaimu! Tolong Bara, jika kamu tak bisa berbicara berilah isyarat bahwa kamu masih mencintaiku!
Kirana, yang masih mencintaimu.
Kuhadapkan surat itu pada Bara, dengan selang oksigen dan peralatan medis yang masih menempel di tubuhnya. Baraku meneteskan airmata dan memandangku.
Aku memeluknya. Suasana haru. Ibu Bara menangis. Semua menangis. Ibu dan ayahku juga.
"Sayang, sakit ya pakai alat-alat ini?" Tanya Ibu membisikan di telinga Bara.
Bara meneteskan air mata.
"Kalau Ibu cabut alat-alat ini Bara ikhlas ya? Maaf, kali ini Ibu tidak bisa mengusahakanmu, Ibu manusia biasa. Ibu ikhlas sayang." Ucap ibu lagi.
Bara menggenggam tangan Ibu. Dengan ditalqinkan dengan syahadat Ibu melepas selang oksigennya. Bismillah.
Suasana haru.
Langit menghitam. Hujan rintik-rintik. Senja masih akan tetap hadir, menyapa hari, tapi tidak seperti dulu. Senja di kemudian hari mungkin tidak akan lagi sama, Bara.
Selalu ada keindahan dalam harapan, selalu ada kenyataan yang mengikutinya. Begitulah hidup. Tuhan Maha Kuasa.
Dan mengukir harapan bersamamu itu indah, Bara.
Terimakasih Bara, sudah mencintaiku.
Aku masih Rana yang dulu Bara, aku suka duduk di halte kesukaan dan menunggu senja datang. Meski bukan untuk menunggumu lagi. Perpisahan memang menyakitkan. Tapi, bukankah kamu yang mengajarkanku untuk tetap melangkah? Menjalani hidup bersama takdir? Dengan atau tanpamu.
Terimakasih juga telah memberiku satu Ibu lagi untuk aku jaga seperti kamu menjagaku.
Selamat tinggal kenangan bernama Bara.
Aku sedang disini, menuntaskan catatan harianmu yang terpotong, sambil memandang cincin yang belum sempat kau sematkan di jariku, di halte tempat aku setia menunggumu. Dulu.
--- Sedikit diadaptasi dari cerita teman. 

Komentar

  1. kenapa aku sedih bacanya?
    kenapa aku baru sempat baca?

    BalasHapus
  2. aku juga sedih baru baca komentnya hiks :(

    BalasHapus
  3. Maaf aq baru membaca yah Eka.. Dan maaf, aq mengintip tulisanmu.. Menyentuh..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summary Malam I

Summary Untuk Pram

Summary Chemistry di Bulan Juli