Summary Langit dan Dua Anak Manusia


Waktu membentuk cerita,  berubah, lalu menghilang
Ada kenangan, perasaan, dan mungkin rindu
sebagian begitu..
“Jangan takut!”  katamu
Aku menghela napas, ah... dan kenapa kau selalu tahu

Ada langkah yang menggerakan,  menghantar kaki sampai ke perbatasan
“Aku ingin sendiri, sendiri saja, paling tidak untuk senja hari ini saja.” Ucapku datar sekali
“Kau egois” katamu lagi
Aku mengernyitkan dahi, lalu bertanya, “kenapa begitu?”
“Karena kau suka sekali sendiri,  sedang aku ingin bersamamu. Memang tak bisa kau bagi langitmu? Paling tidak berceritalah tentang langit yang kau rindukan itu,
tentang langit yang bisa membuat hatimu bergetar.”

“Aku jatuh hati pada jingga,  pada biru, pada semburat warna elok itu,
mungkin aku sudah jatuh cinta.”
“Klise sekali dirimu”  katamu menusuk sekali
“Apa jatuh cinta hanya milik manusia saja?” Jawabku kesal
“Aku jatuh cinta pada semesta. Manusia berawal dari-Nya, bukankah semesta juga begitu? Lalu kenapa tidak boleh?“
Kau diam, bisu, seperti waktu yang diam diam habis meninggalkanku

Waktu tak pernah habis, kita yang akan habis
Mati dalam kenangan, meninggalkan cerita
Ditelan isyarat dan pembebasan.  begitu teorimu.


Waktu seperti manusia saja, egois!
Tak taukah dia soal kompromi
Aku ingin memperlambat, ditolaknya
Aku ingin mempercepat, diacuhkannya juga
“Hmmmm..  Bisakah kau jelaskan kenapa waktu begitu menyebalkan?”
“Tapi waktu begitu istimewa,”  katamu sederhana
“Kita hanya memiliki satu waktu dan  satu kehidupan. Tak bisa kembali, tak bisa mundur, tak bisa menawar, tak bisa menyerah. Dan itu yang akan membuatmu berfikir bahwa hidup janganlah sia sia.”

Ah dirimu itu
Suka sekali memarahiku, menatapku dalam dan sinis
mengingatkan aku yang pelupa, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan bodohku

Lalu aku diam, memandang jauh, lalu meninggalkanmu
Senja sudah tiba,  aku mau pergi,  aku mau di sudut bumi itu sendiri
Aku tidak mau melewatkan senja ini denganmu
Ini terlalu indah untuk sekedar menikmatinya denganmu
Pada kau yang tidak akan bertanggung jawab bila aku jatuh hati padamu







Kau menarik tanganku
“Bisakah kita seperti dua anak manusia yang normal? Sudah ku bilang jangan takut,
Bisakah kau menikmatinya seperti manusia kebanyakan? Kau jaga hatimu, memang kau takut hatimu lepas kemana? Kenapa kau selalu menguatkan hati yang sebenarnya bisa luluh dan berantakan,  kenapa kau itu bodoh sekali!”

Matahari di ujung barat mulai tenggelam
Warna jingga itu menampakan kekhasannya hingga sampai ke arah wajahmu
Indah sekali, 
Aku takut jika aku rindu senja, jingga, dan langit
Aku juga akan merindukanmu
Sedang aku harus mendapati dirimu pergi dan menghilang
Lalu aku akan sangat bersusah payah untuk membuat aku dan langit baik baik saja
“Duduklah, nikmati satu waktu dan satu senja ini denganku. Kali ini saja, setelah ini aku tak akan mengatur seperti apa kau akan menikmati senja dan langitmu.”

Mataku berkaca kaca
Apa yang sedang kau rencanakan bersama Tuhan
Lalu aku dan kau diam
Menghabiskan waktu hingga senja memudar...




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summary Malam I

Summary Untuk Pram

Summary Chemistry di Bulan Juli