Summary 25 Hari
Ini hari kedua setelah kita memutuskan untuk
tidak bertemu dan tanpa kabar sedikit pun sampai hari ulang tahunku.
Aku tak tahu persis apa kau benar-benar
menyetujui ide konyolku. Kau hanya mengangguk, mungkin setuju atau mungkin
terpaksa setuju. Ah entahlah, kadang aku tak mengerti atas sesuatu yang
benar-benar kau ingin lakukan atau tidak. Jangan berusaha menyenangkan aku,
jangan selalu mengikuti iramaku kalau tidak suka. Aku mungkin tak menyukai
penolakan, tapi aku lebih tak suka kau melakukan apa yang tidak kau suka.
“Gimana kalau kita nggak ketemu? Sehari,
seminggu, atau setahun mungkin?” kataku padamu
Entah apa yang ada didalam pikiranku saat
itu, yang aku tahu aku menyayangimu. Itu saja. Tapi, aku ingin memberi jeda
pada diriku sendiri. Mengistirahatkan hati yang terisi penuh oleh namamu.
“Yaudah kalau mau kamu itu. Tanpa komunikasi?
Tanpa apapun?” tanyamu lagi
“Iyaah...” jawabku perlahan
“Sampai kapan?” tanyamu
“Sampai hari ulang tahunku, kita ketemu tanggal
30 Mei jam 5 sore di halte” begitu kataku
Kau mengangguk.
***
Hari
pertama, Minggu 5 Mei 2013 : Aku rindu kamu
Hari
kedua, Senin 6 Mei 2013 : Bodo!! Aku rindu kamu
Mungkin saat kita bertemu kau akan bertanya. Kenapa aku melakukan ini, kenapa aku selalu melakukan
ide-ide konyol, kenapa kita tidak seperti pasangan pada kebanyakan, kenapa aku
selalu saja merepotkanmu, kenapa aku selalu saja menjadi pikiran untuk
pikiranmu. Kenapa aku ini bodoh, bodoh sekali.
Maap sayangku,
Tapi aku memang tidak suka pada cara
kebanyakan
“Jalanin aja dulu, nikmati...” begitu kata
orang
Kau tahu, inilah caraku menikmatinya. Aku tak
memintamu untuk jangan pernah bosan padaku. Karena saat kau bosan pada apapun
dari diriku, kau boleh beristirahat sejenak, memberi ruang untuk hatimu,
menemukan rindumu untuk kembali merindukanku.
Sayang,
jangan lagi mengkhawatirkanku. Kita mungkin akan menjadi manusia
membosankan, tapi aku tak tahu bagaimana cara untuk tidak mencintaimu.
Kita tak perlu perayaan hebat. Aku tak memintamu kado istimewa pada
hari ulang tahunku. Aku juga tak menginginkan kejutan apapun. Sungguh tidak.
Kau ingat pesanku saat kita memutuskan menunaikan permintaanku?
“Jangan sering pulang malem. Sering-sering temenin
Ibu di rumah”
Aku hanya ingin membuat dirimu dan diriku
lebih baik. Aku hanya ingin kita belajar untuk bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Aku tak ingin
merebut dirimu, waktumu atau mungkin seluruh hatimu.
Bolehkah aku jujur?
Aku pernah berkata padamu, bahwa aku ingin
kita tumbuh dan dewasa bersama,
Nyatanya?
Aku ingin kau yang lebih dewasa daripada
diriku. Aku ingin kau adalah pria yang dapat membuat aku menganggukan kepalaku
dan berkata “Oh iya” padamu.
Maap sayang, aku mungkin terlalu menuntutmu.
Aku hanya sedang mengungkap isi hatiku.
“Aku suka kamu yang kamu banget” begitu
kataku padamu
Begitulah aku menyayangimu sebagai dirimu.
Aku tak memintamu untuk menjadi hebat. Tapi sungguh aku ingin kau bertanggung
jawab pada keputusanmu. Ya, akupun begitu.
Belajar. Memahami. Menerima
kekuranganmu kekuranganku. Bukan untuk mengisi kekosonganmu kekosonganku. Orang bijak bilang, untuk
menggenapkan. Ya, menggenapkanku menggenapkanmu.
Percayalah
sayang, waktu akan membentuk kita.
***
Hari
ketiga, Selasa 7 Mei 2013 : Aku rindu kamu, sayang
Ini hari ketiga sayang. Pagi ketiga, tanpa
kabar tanpa apapun tentang dirimu. Apakah kau melihat matahari pagi ini? Dia
jingga, sangat bulat, Manis sekali. Membuat aku rindu padamu, membuat aku rindu
ingin mengirim pesan singkat yang biasa aku lakukan pada setiap pagiku untukmu.
“Selamat pagi sayang. Pagi ini matahari
menjingga. Semoga kamu bahagia ”
Mungkin begitu pesan singkatku pagi ini jika
aku mengirimkannya padamu.Tapi tidak untuk pagi ini. Setelah kita berkonspirasi
untuk saling memberi jarak.
Pagi ini kupandangi foto-foto saat kita
menghabiskan dan menghidupkan waktu bersama. Untuk saat ini itulah penuntas
rinduku padamu. Bagaimana perasaanmu sayang? Apa kau masih mengingat baik semua
tentang diriku? Apa kau masih bisa membayangkan wajahku saat aku tersenyum dan
cemberut? Apa kau masih ingat omelan-omelan dan suara cadelku yang berisik?
Dan, apakah kau masih menyisakan rindumu untukku sayang?
Matamu, rambutmu, bibirmu, bahkan jerawatmu
aku masih ingat benar.
“Aku sayang kamu” bisikmu pelan di telingaku
saat kau bergegas pulang dari rumahku malam itu
Aku hanya tersenyum padamu.
***
Rabu,8
Mei 2013 : Hari keempat dan rasanya itu nggak enak
Kuputar media players dari handphoneku,
“....I finally found a love of a
lifetime....” --- Firehouse
“....Kemesraan ini janganlah cepat
berlaluuu....”--- Iwan Fals
“....Coz so many man i know, you’re the one
that i love so true....” --- Ten2Five
“....Kita adalah sepasang kekasih yang
pertama yang bercinta di luar angkasa. Seperti takan pernah pulang kau membias
di udara....” --- Frau
“Ketika kurasakan sudah ada ruang dihatiku
yang kau sentuh....” --- Maliq n d’esentials
Begitu lirik dari lagu-lagu yang kudengar menjelang
senja sore ini di Bis. Tanpa jingga. Tanpa dirimu. Hanya ada lagu-lagu kesukaan
kita, dan aku yang sedang merindukanmu.
***
9
Mei 2013 – 18 Mei 2013 : Sudahlah aku bosan. Masih sama. Aku rindu kamu
sayang!!!!!
***
Minggu,
19 Mei 2013 : Entah ini hari keberapa yang aku tahu aku takut kehilangan kamu.
Apa kau pernah memikirkan aku sayang?
Apa pernah kau memikirkan aku sedang apa,
melewatkan waktu bersama siapa, warna baju apa yang aku kenakan hari ini, atau
pernah kau memikirkan apa aku sedang bahagia atau tidak?
Hari ini, aku berencana tidur siang selepas
pulang kuliah, tapi entah hari ini isi kepalaku penuh oleh namamu, aku hanya
bisa memejamkan mata tapi tidak bisa terlelap tidur. Aku berpikir tentang
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada hubungan kita. Begitu banyak rasa
yang tak bisa aku ungkapkan melewatkan hari tanpamu. Kau tahu, sore tanpamu sungguh tidak menarik dan kau tahu perasaan yang paling menyebalkan adalah
perasaan takut kehilanganmu.
“Apa kamu masih sayang aku?” mungkin begitu
pertanyaanku padamu
Ingin rasanya mengirim pertanyaan itu lewat pesan
singkat. Ah, tapi aku tak kuasa. Aku takut ini hanya prasangka.
Bolehkah aku jujur kepadamu?
Aku mengkhawatirkan perasaanmu kepadaku
sayang?
Apa perasaanmu padaku masih utuh seperti
dulu?
Apa kau masih menyimpan dan menumpuk rindumu
untukku?
Apa kau masih kau ingat apa saja kesukaanku?
Apa kau masih ingat bagaimana aku yang
tertawa dan cemberut?
Asal kau tahu, aku masih ingat dengan baik
semua tentang dirimu.
Kau yang susah sekali untuk bangun pagi. Kau
yang selalu telat dan sering sekali membuat aku menunggu. Kau yang tak terlalu suka makan pecel lele,
seafood dan telur. Kau yang lebih menyukai nasi goreng polos tanpa kecap. Kau
yang bisa menghabiskan rokok berbatang-batang dalam sehari. Kau yang sangat menyukai
burung dan menggambar. Kau yang pernah berkata padaku bahwa lotek dan usus
goreng adalah makanan kesukaanmu. Kau yang begitu menyayangi Ibu dan
keluargamu. Kau yang tak suka balasan sms hanya “Oh” saja. Kau yang selalu
menyediakan telingamu untuk mendengar cerita dan kekonyolanku. Kau yang selalu
mengingatkanku ketika aku makan sambil bersuara. Kau yang selalu meminjamkanku
jaketmu saat aku lupa tak membawanya. Kau yang selalu meminjamkan pundakmu
untukku saat aku kelelahan diatas motor. Kau yang berusaha mengusahakan hal-hal
kecil untukku. Ya, saat aku ingin sekali makan eskrim braga, atau saat aku
ingin sekali main sabun gelembung. Saat aku ingin sekali mencari tempat yang
bagus untuk menyaksikan sore yang menjingga. Kau yang selalu menghidupkan waktu-waktuku.
Kau yang memberikan batu berbentuk hati dan sebuah materai untukku. Kau yang,
kau yang... Ah sudahlah... Aku suka caramu padaku..
Kapan lagi kita menghabiskan sore bersama
sayang?
Aku rindu pundakmu..
***
Senin,
20 Mei 2013 : Rindu Andhika Kurnia Putra
Selasa,
21 Mei 2013 : Rindu pria nyebelin
Rabu,
22 Mei 2013 : Iya rindu orang itu
Kamis,
23 Mei 2013 : Sial!! Dan masih aja rindu!!
***
Jumat,
24 Mei 2013 : Aku sudah bosan menulis kata rindu
Halo sayang, besok kamu muncak gunung
pangrango kan yah? Aku masih ingat betul. Gimana persiapanmu? Aku tau kok kamu
pasti kuat. Cuma satu pesen aku selain jaga diri kamu baik-baik jangan lupa
salam untuk langit pangrango, juga untuk mandalawangi yang pasti memesona.
Someday, aku pasti akan kesana. Membuktikan yang mereka bilang bahwa
mandalawangi itu mengagumkan.
Oh iya, malam ini sehabis pulang kerja. Aku,
abah, dan cute menghabiskan waktu bersama di kedai mata angin. Kebetulan cute
lagi pulang dan ngajak ngopi. Melepas penat juga selama tanpa kamu aku jarang
kemana-mana. Paling ketemu siska atau main sama anak-anak kampus, itupun
sebentar-sebentar. Tapi pulangnya cute marah-marah karena aku minta jangan
pulang dulu. Yah kamu tau aku emang ngeyel, yah cuma pikiran aku saat itu
adalah kapan lagi ngabisin waktu bareng. But anyway, sudahlah mungkin lain kali
aku gak perlu memaksakan orang.
Dan, hari ini aku kecewaaaaa. Entah sebenarnya pada siapa? Aku hanya
tiba-tiba berpikir mungkin pendengar yang baik banyak, tapi mungkin juga tidak
akan ada yang benar-benar bisa menjadi penyimpan yang baik. Aku hanya mulai
berpikir bahwa aku tidak bisa menjaminkan apapun pada seseorang atau bergantung
pada seseorang sepenuhnya. Saat lelah
dan terjatuh yang ada hanyalah diri kita sendiri, badan dan kaki yang kuat
untuk melangkah serta hati yang kuat untuk menerima.
Sayang, aku nggak tahu berapa kali kamu ingat
aku dalam sehari atau mungkin nggak pernah sama sekali. Tapi biar saja aku
dengan persepsiku, bahwa mungkin kau juga sedang merindukan aku. Sama seperti
aku disini.
***
Sabtu,
25 Mei 2013 : Sudah aku bilang aku bosan menulis kata rindu
Minggu,
26 Mei 2013 : Selamat sampai menuju puncak tertinggi. Cepat pulang.
***
Senin,
27 Mei 2013 : Nggak sabar
Selasa,
28 Mei 2013 : Nggak sabar
Rabu,
29 Mei 2013 : Nggak sabar
***
Kamis,
30 Mei 2013 : Today is a final moment after 25 days without anything of us
Sayang kau tahu hari ini
perasaanku aneh sekali, seperti anak 17 tahun yang akan baru pertama kali
kencan. Semacam perasaan bahagia dan gelisah. Entah apa, langkah kakiku berat
sekali meski ingin sekali cepat sampai untuk menemuimu. Ya, jantungku berdegup
kencang sekali. Perasaan yang akupun tak mengerti, mungkin seperti aku yang
susah untuk kau mengerti. Tapi kau hanya perlu tahu, aku bahagia.
Sore,
pukul 17.10 di halte itu
Kulangkahkan kaki. Iya, untuk menemuimu. Pria
menyebalkan yang membuat aku kesal sendiri karena merindukannmu selama
berhari-hari. Menunaikan janji untuk bertemu dan menghabiskan sisa sore di
tanggal 30 Mei. Kau duduk dengan jaket berwarna merah bertuliskan “Vans”, masih menggunakan helm, lalu melemparkan
senyum kepadaku. Senyum yang sama yang aku kenal. Senyum yang tidak manis tapi
sangat kurindukan.
Halte itu, tidak romantis memang. Hanya ada
pedagang kopi, orang-orang yang menunggu angkutan kota, dan nyanyian klakson
dari kendaraan yang lalu lalang melewati halte tempat aku selalu menunggumu
sehabis pulang kerja. Tapi buatku, tempat
ini selalu istimewa karena semua tempat yang ada kau dan aku didalamnya akan selalu
istimewa. Begitu prinsipku.
Jujur saja, saat itu aku habis kata. Aku hanya bisa
melempar senyum padamu. Memang bukan senyum paling manis sih karena aku sedang
deg-degan saat itu. Ah, Semoga kau tidak tahu. Begitu harapku.
Kau mengajakku ke Monumen.
Aku hapal benar. Pasti kau ingin mengajakku menghabiskan senja bersama. Ritual
yang selalu kita lakukan sehabis pulang kerja. Menjingga bersama setelah 25
hari ini kita lewatkan senja ita masing-masing. Meski kadang langit tidak
selalu menjadi warna yang kita inginkan. Meski kadang yang tampak hanya hitam
dan kelabu. Meski kadang hujan justru mengguyur kita saat kita sedang asyik
mengobrol. Meski pertunjukan yang alam berikan tidak selalu menarik. Tapi
menghidupkan waktu bersamamu. Itu lebih dari cukup untuk membuat soreku menjadi
hebat. Mendengar leluconmu, kekonyolanmu, melihat dirimu menjadi dirimu
sendiri, menertawakan aku dengan kebodohanku,
menjadi apa yang kita mau, membebaskan hati dari penat, dan perlahan
menyadari bahwa kau dan aku telah saling memiliki.
Terimakasih, telah merayakan usia ke-21-ku.
Telah menjadikanku wanita tersayang ke-2
setelah ibumu.
Untuk sore, plakat, kembang api, catatan
harian, cake, siska, abah, maul, udin, sabun gelembung, hujan, foto dan sebuah
buku. Ah untuk semuanya.
Terimakasih juga untuk rindu yang kau simpan
kemarin.
Hari-hari selanjutnya, akan lebih hebat dari
ini. Mari menjadi dua orang yang tumbuh dan dewasa bersama. Menjadi dua orang
yang menyenangkan setidaknya menurut kita.
Kau tahu?
Saat waktu berkonspirasi untuk tidak
mempertemukan kita,
Saat itulah, ada hal yang kita tunggu, ada hal
yang kita rindukan ingin terulang kembali, ada hal yang kita sadari bahwa kehilangan
adalah hal paling menyebalkan. Dan berujung pada kesimpulan “Kau berarti untukku” ---- Ya, Kebermaknaan.
suka ^_^
BalasHapusjadi inget dia.. hiks... buatku, berjarak dengannya dan mengatakan rindu menjadi sangat berarti, karena jarak mengajarkan banyak hal, jarak juga penguji ka, sayang kita masih sama banyak, berkurang atau malah bertambah, selamat ya, semoga berjodoh :)
aku sukaaaa....
BalasHapussuka tulisannya, suka penyampaiannya..
hmmhh,, semoga tabungan rindunya semakin banyak dan sayangnya semakin digenapkan. selamat ya mbak.. :)
te wind : iya teteh makasih.. Bahagia selalu juga buat teteh :) *peyuuuk
BalasHapusmbak yunita : iya mkasih yah mbaak.. :)
teu ngerti ka,,,(memet medina)
BalasHapus