Summary Aku dan Sahabat
Aku tak tahu
bagaimana isi hatinya sore ini. Hujan hanya berlalu dan meninggalkan basah.
Akhir-akhir ini hanya begitu. Hujan membisu. Langit menatap dingin padaku.
Sehabis pulang kerja, hujan mengguyur kotaku
sore ini. Lelahku bertumpuk, aku ingin sekali rumah. Saat perjalanan pulang
kubuka handphone dan mengeceknya. Ada message masuk.
hai nona,, udah lama gak cerita.. mari duduk disampingku, aku hanya ingin sejenak meluruskan kaki dan bercerita..
tentang kita..
YA.. sepulangnya kau dari dataran sana,, aku rasa banyak yang berubah dari kita..
baiklah, aku hanya ingin mencurahkan apa yang ada di pikiranku saja, agar semuanya tetap baik baik saja..
tadinya aku ingin bercerita tanpa perantara apapun, namun mengingat kau yang tak pernah bertanya tentang kenapa aku, dan malah kini kau yang sama sama sungkan seperti aku, maka aku ingin bercerita..
jangan tatap aku seperti itu! dengarkanlah..
aku tau kamu ingin sekali pergi ke puncak bromo, dan aku lebih tau kemana aku ingin pergi lebih dulu,, yaitu ke dataran dimana kau pernah menginjakkan kaki kemarin segagalnya rencana kita pertama kamu ingat?
tapi mungkin kamu memang tak pernah tau betapa besar keinginanku untuk pergi kesana bersamamu..
baiklah..
mungkin selama ini kamu pikir aku kekanakan, dengan sikapku yang acuh tak acuh padamu,, tapi kamu tahu? aku hanya sekadar kecewa lantaran apa yang aku pikir kurang tepat (aku hanya tidak ingin menulis kata salah),,.
seandainya kamu mengerti, bagaimana sakitnya hati ini,, mengapa sakit?
ya, bukan aku tak mengetahui kalian telah merencanakan pergi kesana sepersekian waktu setelah kegagalan kita pergi, dan aku tahu dika bersikukuh agar tak ada satuorangpun yang memebritahukan recana ini kepadaku.. dan itu berhasil tak kalian bocorkan hingga H-15JAM keberangkatan kalian.. aku hanya pura pura tidak tahu..
terbayangkah olehmu betapa kecewanya aku saat itu?
rencana awalku... gagal..
dan ketika kalian punya rencana baru,, lalu?
ah sudahlah, mungkin benar katamu, aku kekanakan.. biar,, hanya aku yang mengerti kamu.. kamu sudah tak perlu repot repot lagi..
yang penting, kamu tetaplah asik dan tepat dimata mereka,, aku? tak perlu kau pikirkan..
mm, aku tak berharap penjelasan ini merubah sedikitpun sikapmu kepadaku, aku seperti ini hanya karena peduli tentang apa yang pernah kita jalani.. tentang langkahmu yang mungkin kini berbeda, kamu benar itu sudah saatnya saja, karena sepatutnyalah aku sadar bahwa aku tak kan pernah bisa mengikuti langkahmu (lagi)..
selamat melangkah bersama kaki kaki yang baru, yang mampu mengiringi dan menjagamu..
aku yang masih berfikir kaulah sahabatku..
tentang kita..
YA.. sepulangnya kau dari dataran sana,, aku rasa banyak yang berubah dari kita..
baiklah, aku hanya ingin mencurahkan apa yang ada di pikiranku saja, agar semuanya tetap baik baik saja..
tadinya aku ingin bercerita tanpa perantara apapun, namun mengingat kau yang tak pernah bertanya tentang kenapa aku, dan malah kini kau yang sama sama sungkan seperti aku, maka aku ingin bercerita..
jangan tatap aku seperti itu! dengarkanlah..
aku tau kamu ingin sekali pergi ke puncak bromo, dan aku lebih tau kemana aku ingin pergi lebih dulu,, yaitu ke dataran dimana kau pernah menginjakkan kaki kemarin segagalnya rencana kita pertama kamu ingat?
tapi mungkin kamu memang tak pernah tau betapa besar keinginanku untuk pergi kesana bersamamu..
baiklah..
mungkin selama ini kamu pikir aku kekanakan, dengan sikapku yang acuh tak acuh padamu,, tapi kamu tahu? aku hanya sekadar kecewa lantaran apa yang aku pikir kurang tepat (aku hanya tidak ingin menulis kata salah),,.
seandainya kamu mengerti, bagaimana sakitnya hati ini,, mengapa sakit?
ya, bukan aku tak mengetahui kalian telah merencanakan pergi kesana sepersekian waktu setelah kegagalan kita pergi, dan aku tahu dika bersikukuh agar tak ada satuorangpun yang memebritahukan recana ini kepadaku.. dan itu berhasil tak kalian bocorkan hingga H-15JAM keberangkatan kalian.. aku hanya pura pura tidak tahu..
terbayangkah olehmu betapa kecewanya aku saat itu?
rencana awalku... gagal..
dan ketika kalian punya rencana baru,, lalu?
ah sudahlah, mungkin benar katamu, aku kekanakan.. biar,, hanya aku yang mengerti kamu.. kamu sudah tak perlu repot repot lagi..
yang penting, kamu tetaplah asik dan tepat dimata mereka,, aku? tak perlu kau pikirkan..
mm, aku tak berharap penjelasan ini merubah sedikitpun sikapmu kepadaku, aku seperti ini hanya karena peduli tentang apa yang pernah kita jalani.. tentang langkahmu yang mungkin kini berbeda, kamu benar itu sudah saatnya saja, karena sepatutnyalah aku sadar bahwa aku tak kan pernah bisa mengikuti langkahmu (lagi)..
selamat melangkah bersama kaki kaki yang baru, yang mampu mengiringi dan menjagamu..
aku yang masih berfikir kaulah sahabatku..
Aku mendadak kesal
pada hujan. Kenapa menemaniku disaat hatiku sedang tidak senang. Apa hujan
sengaja turun agar bisa menutupi air mataku saat aku basah dan kehujanan.
Kenapa hujan begitu menyebalkan. Aku pun tahu aku menyebalkan.
Ya, hari ini aku
menangis. Air mataku jatuh meski hanya tiga tetes. Ah tidak, dua tetes saja.
Tuhan, aku yang manja
ini sedang kecewa? Kecewa karena sudah mengecewakan banyak orang. Tuhan meski
dia tidak hilang, tapi aku kehilangannya, begitu pula dirinya, mungkin dia
sudah kehilanganku.
Aku berubah, aku
tidak berubah, aku berubah, begitu
katanya. Tuhan, sungguh bukan itu. Aku habis kata. Lalu harus kujawab apa. Ah,
aku sudah lelah. Aku menghela napas sangat dalam, lebih dalam lagi. Mungkin aku
yang salah waktu itu. Hmmm... Lalu maaf saja tampak tak berguna. Toh aku tahu
dia tak harus memaafkan apa-apa. Tapi kecewa tetaplah rasa kecewa.
Lidahku kelu. Kemana
suaraku? Aku bisu. Manusia macam apa aku? Yang tak bisa menyisakan kata untuk
mengatakan apa kabar. Aku pikir kita hanya perlu waktu saat itu. Tapi waktu
tinggal waktu. Tak akan mengubah apapun kecuali rasa yang berlarut-larut.
Aku tahu dia akan
baik-baik tanpa aku. Akupun bisa mengusahakan aku baik-baik saja tanpa dirinya.
Tapi bukan itu. Lantas apa yang pernah kita lewati dan jalani selama ini? Hanya
akan menjadi puing-puing rindu? Aku tak mau menjadikan dirinya bagian dari
rindu hari-hariku kedepan. Aku mau dia masih
menemani hari-hariku kedepan. Mendengarkan isi hatiku, kekonyolanku,
kebodohanku, atau apapun yang aku lakukan. Hmmm.. Tapi rasanya aku begitu
egois. Mana mungkin hanya memikirkan segala tentang diriku, bagaimana
keinginanku, atau isi hatiku. Maaf aku bukan sahabat yang baik.
Dia hanya perlu tahu.
Bahwa aku mungkin berubah. Bahwa aku mungkin akan sangat menyebalkan. Tapi
satu, aku masih sangat mengenal dan menyimpannya dalam hatiku. Masih sama,
sebagai sahabatku. Meski kadang aku melupa, meski aku kadang tampak tak berguna,
meski aku selalu tak peduli, meski... ah sudahlah terlalu banyak meski dari
diriku. Maaf lagi, aku bukan sahabat yang baik.
Kalau langkahku
mungkin keliru. Aku minta maaf kalau menurutnya begitu. Tapi aku pun tak
mungkin tak menjadi keliru. Aku masih manusia. Sungguh, tak terbesit sedikitpun
untuk mengabaikannya, SENGAJA melupakannya, atau apapun yang membuatnya kecewa.
Untuk semua
sahabatku..
Kalau mungkin aku
sudah keliru..
Salahku, sahabatku
Komentar
Posting Komentar